Post Top Ad

banner image

Baling-baling Berjelaga

Pagi hari itu seperti memutar kembali siklus kehidupan, tapi tidak pernah sama segala hal yang terlintas dipikiran sekalipun aktifitasnya sama dari hari ke hari.

Rasanya enak kalau pagi ini makan ketan hangat dicampur susu, sambil menghangatkan seporsi ketan untuk dihabiskan dari sisa jualan semalam terlintas di benak Rafa cerita tentang perjalanan kesetiaan cintanya yang salah ia taruh.

Kali ini tak seperti biasa pendamping makan ketannya bukan lagi bir pletok karena sudah habis terjual semalam tapi moccacino panas yang temannya bilang ia ga pernah bakat minum kopi, karena kalau kopi sudah ada didepannya ga ada bedanya seperti air putih yang langsung habis terminum, bukan karena ia suka kopi tapi memang ia suka minum. Sambil tersenyum sendiri ia bergumam ‘hah...minum kopi aja kok pakai bakat’ setaunya minum teh-lah yang mengadakan bakat bernilai seni – (seni minum teh). Teh-lah minuman kesukaanya tapi ga juga pakai seni kalau ia meminumnya.

Sambil Ia bbman dengan salah satu teman bbmnya, kali ini ia ingin berhati-hati walau ketertarikan sudah ia ungkapkan berikut kekhawatirannya sekalipun belum ia jumpai, lama menunggu balasan membuatnya tak sadar sudah berada di depan kipas membersihkan baling-balingnya yang hampir tertutup debu pekat. ‘kotornya..(ungkapnya dalam hati)’ alunan murottal Al waqiah jadi temannya menelusuri cerita baling-baling berjelaga.

Rafa remaja hanyalah seorang anak biasa yang lebih suka menghabiskan waktu bersama temannya dibanding dengan teman perempuan, karena memang ia bersekolah di STM yang semuanya lelaki. Dari remaja ia ga pernah suka pacaran tapi secara ga langsung tawaran pacaran hampir selalu menghampirinya, ia tergolong lelaki yang mudah disukai wanita karena ketampanannya waktu itu. Kata temannya ‘kalau kamu ‘kelinci’ mungkin sudah banyak yang kamu pacari’. Syukurlah ia diberi sifat pemalu oleh Tuhannya jadi kalaupun punya pacar bukan ia yang mengungkapkan perasaan tapi pihak perempuanlah yang duluan mengungkapkan ketertarikannya dan ia hanya tinggal memilih untuk setia kepada siapa. Ia ga suka mempermainkan perasaan wanita tapi terkadang wanitalah yang sering memainkan perasaanya sendiri. Ia lebih suka menghabiskan waktu dengan bermain bersama Yosep dan Supri.

Kembali ke pekatnya debu baling-baling kipas yang ia bersihkan, ia teringat hawa – mantan kekasihnya yang ia kenal lewat facebook. Mereka berdua sama-sama saling suka sekalipun sampai akhir hubungan tidak pernah berjumpa. Semua berakhir ketika Rafa ingin melamarnya tapi orangtua hawa tak mengizinkan karena ingin anaknya berkarir dulu. Hawapun menuruti ibunya dan merekapun mengakhirinya dengan berpisah. Bayangkan sosok rafa yang ingin menikah dengan seorang wanita yang belum pernah ditemuinya, jadi kalau ada yang bilang rafa melihat fisik saja itu salah besar. Semua terjalin hanya lewat kata tanpa tatapan wajah dan rafa setia, karena selama menjalin komunikasi dengan hawa dirasa rafa ialah pilihan terbaiknya tapi Allah berkehendak lain hawa bukan untuk rafa tapi untuk adam, entah adam yang mana yang akan bersanding dengannya. Bukan tanpa alasan keduanya menghabiskan perasaan manis menjadi hambar, semua itu karena Allah dan mereka berdua sama-sama ingin menjaga diri dan kehormatan, Rafa tidak mau berlama-lama dan Hawapun belum ada keinginan cepat menikah sekalipun mungkin ia masih mencintai Rafa. (Cinta itu aneh).

Sudah menjadi sifat Rafa yang akan mencoret habis perasaanya sampai tak berbentuk segala kenangang tentang masa lalu yang berhubungan dengan cintanya hingga kalaupun muncul nama Hawa diberandanya sudah tidak ada lagi rasa cinta. Dan cara rafa berhasil ia tak punya lagi rasa yang sama, yang ada hanya perasaan hambar. Ia hanya berpikir dan berprinsip dengan cara itulah ia bisa mengistimewakan pasangannya kelak.

Kini Rafa memantapkan hatinya untuk menempuh cara dan jalan Allah dalam memilih pendamping hidupnya, ia janji ga mau lagi patah hati, ia janji ga mau lagi jatuh hati dengan cara seperti itu. Ta’aruflah jalan yang ia pilih sambil ia memperbaiki diri menjemput kekasih yang akan menemaninya menjalani kehidupan islami.

Ia teringat sebaris kalimat yang pernah ditulisnya di Facebook. Kamu bisa memilih menghabiskan pencarian teman hidupmu dengan berpindah dari satu hati ke hati lain atau sibuk memperbaiki diri hingga Allah pertemukan dengan yang terbaik untukmu. Bukankah Allah telah menyediakan jodohmu dan bukankah yang baik hanya akan berpasangan dengan yang baik jadi tenanglah dalam urusan jodoh asal engkau baik, engkau pasti akan disediakan jodoh yang baik, yang akan mengistimewakanmu seperti engkau mengistimewakannya’.

Rafa sadar betul jika ia ingin diistimewakan oleh pasangannya maka ia harus mengistimewakan pasangannya dengan cara yang istimewa juga.


Akhirnya baling-baling kipas itu sudah bersih dari debu pekat seperti debu masa lalu yang tersapu dan udara dari kipas itu lebih segar dirasa rafa apalagi dengan pewangi ruangan yang ia taruh didepannya.
Baling-baling Berjelaga Baling-baling Berjelaga Reviewed by Taupik Widayanto on October 31, 2014 Rating: 5

Recent

Powered by Blogger.