Kemungkinan - kemungkinan mereka yang dagangannya ramai :
- Kebutuhan yang harus mereka penuhi banyak seperti hutang, cicilan, pengobatan dll. Allah cukupkan rezekinya untuk ini namun tidak lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, yang seperti ini bisa kita liat walau usahanya ramai tapi hidupnya tetap gitu2 aja.
- Pandai memanfaatkan rezeki, Allah menyukainya karena rezeki yang Allah kasih dimanfaatkan dengan baik untuk keluarga dan agama (sedekah). Mereka yang seperti ini tidak silau dengan harta, walaupun usahanya ramai, ibadahnya ga pernah ketinggalan. Kalau di daerah kami biasanya yang seperti mereka ini memiliki banyak tanah, kios sewaan, rumah kontrakkan dan sudah pasti berhaji. Dzikirnya kenceng.
- Kebutuhan yang harus dipenuhi tidak banyak, tidak ada hutang atau cicilan, keluarga sehat dll. Biasanya mereka yang seperti ini cukup hanya dengan rezeki bisa sholat jamaah, tilawah, keluarga tentram. walaupun terlihat sepi namun selalu cukup untuk kebutuhannya, ada aja rezekinya tidak harus dari apa yang ia jual.
- Tidak pandai memanfaatkan rezeki, biasanya yang seperti ini memiliki banyak masalah seperti masalah rumah tangga, terjerat riba, dan lain
Tentu saja dua kondisi diatas tidak bisa dijadikan tolok ukur pasti, karena ada juga yang dagangannya ramai bisa jadi strateginya jitu dan yang dagangannya sepi karena banyak melakukan kesalahan-kesalahan dalam strategi jualannya.
Namun demikian sebagai umat islam sudah selayaknya jika kita berdagang harus memperhatikan aturan maim sesuai syariat islam dalam bermuamalah.
Harta dan tahta seolah tidak lagi istimewa jika pelaku dosa pun bisa memilikinya, tapi jika bisa sholat jamaah tepat waktu, dzikir, baca quran bisa jadi sangat istimewa (manfaat) karena mereka yang zuhud saja yang bisa melakukannya.
Rezeki yang sebenarnya
Reviewed by Taupik Widayanto
on
December 18, 2017
Rating:

No comments: